Salah satu tujuan utama koperasi adalah meningkatkan kesejahteraan anggotanya. Tujuan ini telah menjadi prinsip dasar koperasi sejak awal dan hampir semua orang sepakat bahwa koperasi harus hadir untuk memberikan manfaat bagi para anggotanya.
Namun, ada satu pertanyaan mendasar yang jarang kita renungkan.
Apa sebenarnya yang dimaksud dengan kesejahteraan anggota?
Cara kita menjawab pertanyaan inilah yang akan menentukan bagaimana koperasi dibangun, bagaimana usaha koperasi dijalankan, dan bagaimana keberhasilannya diukur.
---
Dalam praktiknya, kesejahteraan anggota sering diartikan sebagai manfaat yang dapat langsung dirasakan, seperti:
- harga barang yang lebih murah,
- kemudahan memperoleh pinjaman,
- akses terhadap berbagai fasilitas,
- atau tersedianya berbagai kebutuhan anggota melalui koperasi.
Semua manfaat tersebut tentu memiliki nilai positif.
Namun, apabila kesejahteraan hanya dipahami sebagai manfaat yang bersifat langsung dan instan, maka tanpa disadari koperasi akan lebih sibuk memenuhi kebutuhan anggotanya daripada membangun kekuatan ekonomi anggotanya.
Akibatnya, keberhasilan koperasi sering diukur dari seberapa murah harga yang diberikan atau seberapa banyak layanan yang disediakan, bukan dari seberapa kuat ekonomi anggotanya berkembang.
---
Keinginan memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada anggota sering mendorong koperasi menjual barang dengan harga serendah mungkin.
Sekilas, pendekatan ini tampak sangat berpihak kepada anggota.
Namun sebagai badan usaha, koperasi juga memerlukan margin usaha yang sehat agar mampu menutup biaya operasional, mengembangkan usaha, memperkuat permodalan, menghadapi risiko, serta terus memberikan manfaat di masa depan.
Apabila seluruh margin dikorbankan demi harga murah, koperasi memang dapat memberikan keuntungan sesaat, tetapi kehilangan kemampuan untuk terus bertumbuh.
Manfaat jangka pendek akhirnya dibayar dengan melemahnya keberlanjutan usaha koperasi.
---
Orientasi menghadirkan harga murah juga dapat menimbulkan persoalan lain yang sering luput dari perhatian.
Ketika koperasi menjual barang atau jasa yang sama dengan harga lebih rendah tanpa strategi yang tepat, koperasi berpotensi menciptakan efek kanibalisme ekonomi terhadap usaha yang telah dijalankan oleh anggotanya sendiri maupun pelaku usaha lokal di sekitarnya.
Alih-alih memperkuat ekonomi anggota, koperasi justru berubah menjadi pesaing bisnis bagi anggotanya.
Transaksi mungkin berpindah ke koperasi, tetapi secara keseluruhan kekuatan ekonomi anggota tidak bertambah. Bahkan dalam beberapa keadaan, usaha anggota dapat melemah karena kehilangan pasar.
Padahal semangat koperasi bukanlah memenangkan persaingan melawan anggotanya, melainkan membangun kolaborasi yang membuat seluruh anggotanya tumbuh bersama.
---
Sudah saatnya kesejahteraan anggota dipahami secara lebih luas.
Kesejahteraan bukan hanya manfaat yang diterima hari ini.
Kesejahteraan adalah kemampuan anggota untuk terus memperoleh manfaat ekonomi secara berkelanjutan.
Dengan cara pandang ini, koperasi tidak lagi sekadar berusaha memenuhi kebutuhan anggota.
Koperasi hadir untuk menguatkan ekonomi anggota.
Artinya, koperasi membantu anggota meningkatkan produktivitas, menciptakan nilai tambah, memperluas akses pasar, meningkatkan efisiensi usaha, memperkuat daya saing, dan membuka peluang ekonomi yang tidak dapat dicapai secara sendiri-sendiri.
Ketika ekonomi anggota semakin kuat, kemampuan mereka memenuhi kebutuhannya sendiri juga akan meningkat.
Inilah bentuk kesejahteraan yang lebih berkelanjutan.
---
Sering kali margin usaha dipandang sebagai beban karena dianggap membuat harga menjadi lebih tinggi.
Padahal, margin usaha yang sehat merupakan sumber kehidupan koperasi.
Dari margin itulah koperasi dapat membiayai operasional, meningkatkan kualitas layanan, melakukan investasi, mengembangkan usaha, menghadapi risiko, dan pada akhirnya membagikan manfaat yang lebih besar kepada anggotanya.
Margin yang sehat bukan berarti koperasi mengambil keuntungan dari anggotanya.
Sebaliknya, margin yang sehat merupakan cara agar koperasi tetap mampu memberikan manfaat kepada anggotanya secara berkelanjutan.
---
Dengan perubahan cara pandang ini, peran koperasi juga berubah.
Koperasi tidak harus menjadi penyedia semua kebutuhan anggotanya.
Koperasi tidak harus bersaing dengan usaha yang telah dimiliki anggotanya.
Peran koperasi adalah menjadi penguat ekonomi anggotanya.
Koperasi dapat mengelola potensi bersama, menciptakan nilai tambah, memperkuat rantai pasok, membuka akses pasar, meningkatkan efisiensi, menyediakan layanan bersama, membangun merek kolektif, serta mengembangkan berbagai usaha yang memberikan manfaat bagi seluruh anggota.
Semakin kuat ekonomi anggotanya, semakin kuat pula koperasinya.
Dan semakin kuat koperasinya, semakin besar manfaat yang dapat kembali kepada seluruh anggota.
Hubungan ini saling menguatkan, bukan saling menggantikan.
---
Tujuan koperasi tetap sama, yaitu meningkatkan kesejahteraan anggotanya.
Namun, cara kita memaknai kesejahteraan perlu diperluas.
Kesejahteraan bukan sekadar memperoleh harga murah, kemudahan layanan, atau manfaat yang bersifat sesaat.
Kesejahteraan adalah kemampuan koperasi membangun kekuatan ekonomi anggotanya sehingga manfaat ekonomi dapat terus tumbuh dan dirasakan secara berkelanjutan.
Karena itu, koperasi seharusnya tidak dibangun untuk menggantikan usaha anggotanya.
Koperasi dibangun untuk memperkuat usaha anggotanya.
Bukan sekadar memenuhi kebutuhan anggota, tetapi membangun kemampuan anggota untuk memenuhi kebutuhannya sendiri melalui ekonomi yang lebih kuat, produktif, dan berkelanjutan.
Di situlah hakikat kesejahteraan anggota yang sesungguhnya.